Selasa, 28 Mei 2013

sejarah islam di india

bab i
pendahuluan
1.1 latar Belakang
Perdaban Islam adalah terjemahan dari kata Arab al-hadha-rah al-Islamiyyah.Kata Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalalam bahasa Indonesia dengan Kebudayaan Islam. “Kebudayaan” dalam bahasa Arab adalah al-Tsaqafah.Di Indonesia,sebagaimana juga di Arab di Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata ‘’kebudayaan’’ (Arab, al-Staqafah;inggris, culture) dan “peradaban” (Arab, al-hadharah ; inggris, zivilization). Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang , kedua istilah itu di bedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan, manivestasi-manivestasi kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra religi (agama), dan moral, maka peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi, dan teknologi. Asia Selatan (dulu India), merupakan suatu Jazirah dari benua Asia yang memiliki keunikan tersendiri bagi perkembangan kebudayaan di wilayah Asia tersebut. Salah satu keunikan dari wilayah ini adalah beragamnya bangsa-bangsa yang datang dari luar India yang kemudian membentuk agama baru, serta kebudayaan baru.
Keunikan lain yang perlu diketahui juga adalah adanya kebudayaan yang sudah tinggi di miliki oleh India pada tahun-tahun jauh sebelum masehi, serta corak kerajaan-kerajaan besar yang pernah menguasai wilayah ini, sehingga menunjukkan kemajuan yang signifikan baik dalam bidang perdagangan, politik, sosial, agama maupun ilmu pengetahuan.
Dalam sejarahnya India secara umum di pengaruhi oleh tiga invasi besar. Pertama, invasi oleh bangsa Arya, kedua, invasi agama Islam, dan ketiga adalah invasi oleh bangsa Barat ( Inggris ). Melihat proses invasi tersebut tentunya menarik apabila pengkajian Islam di Asia Selatan ini di mulai dari perkembangan awal pembentukan masyarakat India sampai sekarang, tetapi dalam makalah ini tidak membahas secara keseluruhan hanya akan membahas kondisi Asia Selatan (dulu India) sebelum Islam masuk ke wilayah tersebut dengan berbagai kondisi yang meliputi perkembangannya.
1.2 Rumusan Masalah
1)      Bagaiamana awal masuknya Islam ke India?
2)      Bagaimana strategi dakwah yang digunakan para Ulama dalam penyebaran nya?
3)      Bagaimana Mahzab yang berkembang di daratan India?
4)      Bagaimana perkembangan Islam di India pada masa sekarang?
1.3 Tujuan
1)      Mengetahui bagaiamana awal masuknya Islam ke India
2)      Mengetahui strategi dakwah yang digunakan para Ulama dalam penyebaran nya
3)      Mengetahui Mahzab yang berkembang di daratan India
4)      Mengetahui perkembangan Islam di India pada masa sekarang
1.4 Manfaat
1.      Dengan mengetahui bagaimana Islam masuk ke India maka dapat dianalisis bahwa Islam telah juga berkembang disana
2.      Dapat  mengetahui strategi apa yang digunakan oleh para ulama di India dalam menyebarkan Islam
3.      Dapat mengetahui perkembangan Islam saat ini di India dan kebuyaan Islamnya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Awal masuknya Islam di India (712 – 1206) : (93 – 602 H)
            Masuknya Islam berawal dari penaklukan  tahun 712 M oleh seorang amir dari Baghdad yaitu Muhammad ibnu Kasim yang merupakan perintah dari Khalifah Walid II untuk memerangi Sindh (daerah dekat sungai Indus).  Hubungan antara India dengan Iran semakin dekat yang diawali oleh Iskandar Zulkarnain.
300 tahun kemudian terjadi penyerangan kedua  oleh bangsa Arab. Di sebelah timur iran muncul kerajaan baru yaitu Ghazni, di Afghanistan dengan dipimpin oleh seorang raja yaitu Mahmud Ghazni.  Diantara tahun 1000 sampai 1026 ia memerangi daerah Punjab. Kerajaan ini direbut oleh Muhammad Ghori dan dialah yang melaksanakan penyerangan untuk mengambil alih seluruh India. Pada tahun 1175 – 1203 ia hampir menguasai seluruh daerah Hindustan. Namun wilayah Hindu tidak pernah terduduki.
A.    Kerajaan Delhi (1206 – 1526) : (602 – 932)
            Setelah wafatnya Muhammad Ghori daerah India diperintah oleh panglima Kutbuddin Aibak (1206 – 1211). Pada tahun 1206 ia mendirikan kerajaan dan mengukuhkan namanya sebagai Sultan Delhi. Dalam pemerintahan kerajaan ini raja – raja terbagi dalam beberapa golongan:
1.      Keturunan hamba raja (1206 – 1290)
a.       Sultan Kutbuddin Aibak (1206 – 1211), panglima (hamba raja) Muhammad Ghori
b.      Sultan Althamish (1211 – 1236), hamba raja Aibak, hampir diserang oleh raja Mongol Jengis Khan
c.       Sultana Raziyatuddin (1236 – 1240), anak perempuan Althamish yang berani, bijaksana dan memiliki sifat kepemimpinan yang baik.
d.      Sultan Nasiruddin (1246 – 1266), adik dari raziyatuddin
e.       Balban (1266 – 1287), seorang pahlawan dan bekas hamba sultan Altamish, pengganti raja balban terbunuh. Maka beakhirlah zaman pemerintahan keturuna hamba raja.
2.      Raja keturunan Khilji (1290 – 1321)
a.       Sultan Jalaludin Khilji (1290 – 1296), dibunuh oleh menantunya yang menjadi penggantinya.
b.      Sultan alauddin Khilji (1296 – 1316), kerajaan semakin luas meliputi Gujarat dan deccan, kaum Hindu sangat tertindas
c.       Malik kafur
d.      Sultan Kutbuddin Mubarak
e.       Nashiruddin (khusru), pembunuh Kutbuddin
3.      Raja keturunan Tughlak (1321 – 1399)
a.       Thuglak Shah (Ghazi Malik) (1321 – 1324)
b.      Sultan Muhammad Adil Tughlak (1325 – 1351), muncul kerajaan Hindu baru Tamil, bernama Vijayanagar
c.       Sultan Firoz Shah Tughlak (1351 – 1388), keponakan Sultan Muhammad Adil
4.      Pemerintahan Sayid (1414 - 1451)
5.      Raja keturunan Lodi (1451 – 1526)
a.       Sultan Bahlol Lodi (1451 – 1489)
b.      Sultan Sikandar Lodi (1489 – 1517)
c.       Sultan Ibrahim Lodi (1517 – 1526)
B.     Kerajaan Moghul (1526 – 1857)
a.       Sultan Babar
b.      Sultan Hamayun (1530 – 1556)
c.       Sultan Akbar (1556 – 1605)
d.      Jahangir (1605 – 1628)
e.       Shah Jahan (1628 – 1658), dibangunnya Taj mahal
f.       Aurangzib alamgir (1659 1707)
g.      Sultan Bahadur Shah (1707 -1712)
h.      Jahamdar Shah (1712 - 1713), 11 bulan berkuasa dan dibunuh keponakannya Farukhsiyar
i.        Farukhsiyar (1713 – 1719)
j.        Sultan Mahmud Shah
k.      Ahmad Shah
l.        Alamgir II
m.    Tahun 1764 mulai datang pengaruh Inggris (East Indian Company)
2.2 Strategi dakwah
Setiap ekspedisi penaklukan militer oleh tentara Muslim tidak membawa serta juru dakwah. Hal ini karena pemimpin Muslim beranggapan bahwa penaklukan India yang mayoritas Hindu (dalam pandangan Islam Kafir), merupakan suatu perang suci atau jihad. Misalnya, Sultan Muhammad dari Ghazna yang melancarkan ekspedisi militer ke India tahun 1000 – 1026 dan Sultan Timurlenk (Tamerlane) yang menyerbu India pada 1389. Dalih perang suci menjadi trauma menakutkan bagi masyarakat yang beragama Hindu di India Suwarno (2012 : 74).
Menurut Craig Baxter (dkk) dalam buku Government and Politics in South Asia (1987). Ada tiga pola hubungan interaksi antara Islam dengan Hindu di India, yaitu :
1. Pola terorisme
Penduduk Muslim yang menyerbu India hanya membawa kerugian atau kehancuran, misalnya penduduk pribumi Hindu dipaksa masuk Islam atau dibunuh jika tidak mau, harta bendanya dirampas, kuil diratakan dengan tanah dan setelah itu dibangun mesjid. Pola ini diterapkan oleh Sultan Mahmud dari Ghazna, Timurlenk, Sultan Nadhir Shah dari Persia (1739) dan Ahmad Shah Abdali dari Afghanistan (1745 – 1752).
2. Pola penaklukan, perkampungan, dan pembentukan kerajaan di India bagian barat dan utara.
Pola ini dijalankan oleh Muhammad ibn al – Qasim yang menaklukkan Maltan pada tahun 712, berikutnya diikuti oleh Dinasti Budak hingga Dinasti Lodi. Ciri khas dari pola ini adalah para penguasa Muslim gagal membangun sistem administrasi yang efisien.
3. Pola yang ditunjukkan Dinasti Mughal.
Pola ini tidak hanya dapat menaklukkan sebagian besar wilayah India, tetapi juga mampu memantapkan administasi yang stabil dan terpusat dari Lahore, Delhi, atau Agra. Ciri khas pola ini adalah mengintegrasikan seluruh potensi masyarakat India yang heterogen dan kompleks dalam satu kesatuan yang bulat, antara lain dari semangat toleransi yang tinggi.
Suwarno (2012 : 76). Dalam menaklukkan India, penguasa Islam tidak hanya dengan jalan kekerasan. Sebagai contoh dalam biografinya Elliot dan John Dowsan, disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Sultan Firuz Shah dari Dinasti Tughlaq (1351 – 1388), “Sultan mendorong rakyatnya yang kafir untuk memeluk Islam. Siapa yang memeluk Islam akan dibebaskan dari pajak jizyah (pajak perlindungan bagi non – Muslim di Negara Islam).”
Thomas W. Arnold, sarjana Inggris dalam bukunya The Preaching of Islam, memunjukkan selain dengan kekerasan, Islamisasi juga melalui jalan damai, yaitu secara persuasife memalui jalur perdagangan. Islamisasi dengan cara perdagangan dilakukan terutama di India Selatan, tepatnya di Pantai Malabar (daerah Gujarat). Dakwah secara damai juga dilakukan oleh para Mubaligh Islam secara perorangan, misalnya para sufi dan mubaligh Syiah Islamiyah (Suwarno, 2012: 76).
(Suwarno, 2012: 76). Dr. Adil Muhyiddin al Allusi, dalam buku Al’urubatu wallslamu fi Janubji Syarqi Asia al Hindu wa Indonesia, menyajikan fakta dakwah Islam yang meliputi :
a. Pedagang Arab datang ke India tidak hanya berdagang, tetapi juga membawa ajaran Islam. Mereka mampu memelihara hubungan yang baik dengan penduduk pribumi, melalui perkawinan, hubungan bertetangga atau bernegara dan lain – lain.
b. Dalam membawa ajaran Islam para da’i menggunakan cara – cara yang mudah dipahami masyarakat awam.
c. Peran penguasa Islam dalam menarik perhatian rakyat India, antara lain : memperagakan rasa toleransi, menawarkan berbagai fasilitas dan kemudahan bagi pihak yang mau masuk Islam serta menyampaikan berita gembira bagi para pejuang Islam (mujahid fi sabilillah).
d. Peran ulama yang menjadikan pekerhaan mengajarkan agama Islam sebagai kegiatan utama dan hanya mencari ridho Allah semata.
Maka dapat disimpulkan bahwa strategi dakwah Islam di India menggunakan sekaligus tiga cara sekaligus, yaitu : war (perang), trade (perdagangan), dan teaching (pengajaran). Sebagian besar muslim India yang masuk Islam berasal dari kelas bawah dari masyarakat India. Selain itu umat Islam ada juga Muslim yang berasal dari keluarga memerintah kerajaan India berbeda. Beberapa penguasa itu Hindu yang benar-benar milik prajurit kasta dari Hindu dan diadopsi masyarakat Islam. Lainnya adalah keturunan dari penguasa Muslim yang menginvasi India. Para penguasa muslim yang berbeda dari India juga dibawa ke kerajaan mereka tentara bayaran Muslim, pengusaha, dan budak dari berbagai belahan dunia seperti Rusia, Afghanistan, Turki, negara-negara Arab dan Afrika. Orang-orang ini tetap di India, menikah lokal India dan diubah mereka untuk Islam.
Secara umum kaum Muslim di India seperti dunia Muslim terbagi menjadi dua sekte utama, Sunni dan Syiah. Dan seperti di seluruh dunia Muslim ada ketegangan antara kedua sekte. Ada juga Muslim yang mengklaim sebagai keturunan dari putri Nabi Muhammad dan orang-orang dalam komunitas ini menambahkan Syed gelar sebelum nama mereka. Klaim lain untuk menjadi keturunan dari Muslim pertama dan menambahkan Sheik judul. Seiring dengan perpecahan dunia Islam, kaum Muslim India juga memiliki divisi lain.
Komunitas yang berbeda yang mengadopsi Islam dengan cara yang berbeda memiliki nama komunitas yang berbeda. Di barat India, Bohra dan Khoja adalah komunitas Muslim yang memeluk Islam dipengaruhi oleh ulama yang berbeda. Para Khojas juga dibagi menjadi komunitas yang berbeda. Pemimpin masyarakat (Nizari) Khoja adalah Aga Khan. Nawait ini adalah keturunan imigran Arab dan Persia. Di India selatan di negara bagian Kerala, komunitas Mophilla adalah keturunan dari pedagang Arab. Sebuah komunitas Muslim India dikenal adalah Pathan. The Pathan adalah Muslim yang tiba dari Afghanistan. Mereka biasanya memiliki nama keluarga mereka sebagai Khan. The Pathan memiliki gambar menjadi berani, jujur dan adil. Banyak orang India yang mengadopsi Islam mengadopsi nama keluarga Khan dan mereka mengklaim bahwa mereka adalah Pathan, yang tidak selalu benar. The Pathan asli mengklaim bahwa mereka berasal dari Suku Israel.
Pada awal abad ke-20, beberapa organisasi Muslim reformis berkembang di India yang ingin menyesuaikan filsafat Islam dengan dunia modern. Organisasi-organisasi ini ingin membatalkan poligami dan adalah mendukung pendidikan perempuan.
2.3 Mahzab yang berkembang di daratan India
Setelah Muhammad bin Qasim wafat, kedudukan kaum muslimin mulai goyang dan melemah. Tiga abad kemudian, barulah kedudukan mereka menguat kembali dan sangat berpengaruh setelah kedatangan Sultan Mahmud Al-Ghaznawi dari Afghanistan. Sultan ini berjasa dalam mendirikan kerajaan Islam di tanah India tersebut. Gerakan yang dipimpin Sultan Mahmud Al-Ghaznawi datang melalui celah-celah gunung yang curam di Afghanistan, menembus Genting Khaibar yang terkenal curam. Dengan kedatangan Sultan Mahmud, India mulai membuka lembaran baru dalam sejarahnya, yaitu berada di bawah kekuasaan Islam secara mutlak. Peristiwa ini terjadi di akhir abad keempat Hijriyyah.
Selain raja-raja, nama-nama kaum ulama dan dai juga banyak memenuhi halaman-halaman buku sejarah India. Mereka datang semata-mata untuk mensyiarkan agama. Pengaruh mereka di tengah-tengah masyarakat lebih kuat dan mendalam dari pengaruh para raja, yang lebih mementingkan kedudukan dan perluasan daerah kekuasaan. Di antara ulama yang terkenal ialah Syaikh Ismail Al-Lahori (w. 448 H/1056 M), yang berhasil mengislamkan puluhan ribu penduduk Lahore, Syaikh Mu’inuddin Al-Jisyti (w. 627 H/1230 M), yang telah mengislamkan ratusan ribu penduduk Ajmir, Syaikh Fariduddin Al-Ajwadi (w. 664 H/1266 M) dan Syaikh Ali bin Syihab Al-Hamdzani (w. 784 H/1382 M), yang berhasil mengislamkan sebagian besar penduduk India lainnya.
Masih banyak lagi kaum ulama yang berjasa besar dalam dakwah Islamiyah di kalangan masyarakat India, seperti yang disenaraikan dalam kitab Al-Muslimun fi al-Hind, karya Sayyid Abul Hasan Ali An-Nadwi. Selain para ulama yang datang dari lereng pegunungan Afghanistan, India diramaikan pula dengan kedatangan para ulama dari Semenanjung Arab Selatan, seperti Yaman dan Hadhramaut, yang turut berdakwah dan menyebarkan agama Islam di India bersama para saudagar Islam yang berjiwa dakwah. Orang-orang seperti ini pulalah yang membawa agama Islam ke tanah Melayu dan sekitarnya. Pemahaman agama atau madzhab yang dianut kaum muslimin India, yaitu Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi’i, menunjukkan kenyataan sejarah tersebut. Dapat disimpulkan, Islam masuk ke India melalui dua jalan. Pertama, melalui Pantai Barat India, sebagai pintu masuk Islam dari Semanjung Arab Selatan. Dan kedua, melalui bagian Barat Laut, yaitu Afghanistan dan Turki. Kebanyakan kaum muslimin yang menetap di India sebelah barat dan selatan menganut Madzhab Syafi’I, karena mereka menerima Islam dari Semenanjung Arab yang dibawa oleh orang-orang Yaman dan Hadhramaut, yang bermadzhab Syafi’i. Sementara kaum muslimin India yang menetap di bagian utara dan timur, hampir keseluruhannya bermadzhab Hanafi, sebab mereka menerima ajaran Islam dari orang-orang Afghanistan dan Turki, yang kebanyakannya bermadzhab Hanafi.
2.4 Islam di India pada masa sekarang
Masyarakat Muslim memang tidak mayoritas di India. Tapi, tidak di Ibu Kota New Delhi yang merupakan kota dengan populasi Muslim tinggi di India. New Delhi sudah menjadi pusat Islam Kerajaan Moghul. Hingga kini, Islam tumbuh dan berkembang dengan baik disana. Bahkan di pemerintahan profesional, Muslim juga tampil sebagai pejabat maupun anggota dewan. Tak hanya itu, para cendikiawan di New Delhi juga mayoritas Muslim lulusan dari perguruan-perguruan tinggi Islam. Hampir semua golongan di Kota New Delhi menerima kehadiran Islam. Kecuali satu sekte yaitu Sikh. Sekte ini menurut memiliki kebencian khusus terhadap kaum muslimin. Seringkali orang dari sekte Sikh memancing keributan atau mencari gara-gara. Sementara sebagian besar keturunan Sikh berprofesi sebagai polisi. Islam yang selalu dipandang radikal oleh Barat, tidak tergambar di New Delhi. Pemerintah India bahkan memberlakukan hari libur saat perayaan hari besar agama Islam.
Sementara dari sisi pakaian, meski tak berjilbab, para muslimah di New Delhi tetap menggunakan baju panjang yang relatif tertutup. New Delhi juga menjadi tempat berkumpulnya komunitas Muslim. Meski beragam, tapi komunitas itu cenderung seragam yakni memiliki menganut mahzab Hanafi. Dan hanya beberapa saja yang bermahzab Syiah. Sejak 2000 lalu, kesadaran kebangkitan mempelajari Islam mulai menyebar di New Delhi. Hal ini ditandai dengan bermunculannya taman pengajian Al Quran (TPA). Hingga saat ini semakin berkembang dan setiap masjid kini memiliki TPA. Kehadiran TPA dinilai sangat efektif dalam membangkitkan ajaran Islam. Dengan membuka TPA dari pagi hingga sore, tiap anak bisa menyesuaikan waktu belajar di TPA tanpa tertinggal dari sekolah umum. TPA ini bisa diikuti oleh anak-anak dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Dari TPA ini pula lahirlah hafidz Al Qur'an di kota New Delhi.
Dan bukti terabsah dan tidak bisa terbantahkan dari pesatnya perkembangan Islam di New Delhi adalah kehadiran Taj Mahal, satu dari keajaiban dunia. Bangunan indah dan megah itu sumbangan peradaban masyarakat Muslim, sebuah karya arsitektur yang sangat tinggi. Taj Mahal merepresentasikan kemajuan masyarakat Muslim pada zamannya, sekaligus menunjukkan kepada dunia betapa peradaban masyarakat Muslim sudah sedemikian maju. Taj Mahal yang terletak di pinggir Sungai Yamuna, Agra, India sekitar 190 kilometer dari New Delhi, dibangun Syah Jehan Raja Mogul V untuk menghormati istrinya Arjuman Banu Begum atau Mumtaz Mahal. Istana pilihan yang di dalamnya terdapat makam mulai dibangun pada 1632 silam dengan mempekerjakan 20 ribu orang. Pemangunan itu menelan biaya 40 juta rupee. Bangunan inti selesai pada 1643 dan secara keseluruhan rampung pada 1654. Taj Mahal juga menjadi lambang kejayaan Dinasti Mogul, stabilitas di tengah penduduk yang majemuk namun kepemimpinan raja bijak. Meski menganut ajaran Islam, Dinasti Mogul tetap tetap memberikan hak hidup terhadap beragam agama dan keyakinan. Syah Jehan mewarisi kebijakan pendahulunya dalam kepemimpinan sehingga tampil sebagai pemimpin yang sukses.
Beberapa peninggalan Islam di India :
a.       Taj Mahal
b.      Benteng Merah
 


c.       Qutub Minar







bab iii
penutup
3.1  Kesimpulan
Kondisi Asia Selatan (dulu India) pada masa sebelum masuknya Islam telah mengalami perkembangangan yang sudah cukup lama dari beberapa tahun sebelum masehi. Dalam perkembangan tersebut, India sudah mempunyai kebudayaan tinggi yaitu Mohendo-Daro dan Harrapa yang kemungkinan besar milik bangsa Dravida.
Secara general kondisi india sebelum Islam datang kesana sudah relatif tertata masyarakatnya dengan kehidupan ekonomi yang makmur, meskipun adanya polemik politik karena perebutan kekuasaan di antara putra-putra mahkota, namun kondisi keagamaan di India cukup terjaga tidak mengalami kemunduran. Islam datang ke India adanya Hubungan antara negara Arab dan India sebelum kedatangan Islam sudah lama terjalin baik, terutama dalam hubungan perdagangan. Ramai nya perdagangan Arab dan India sudah sejak lama dengan memakai jalur laut. Masuknya Islam berawal dari penaklukan  tahun 712 oleh seorang amir dari Baghdad yaitu Muhammad ibnu Kasim yang merupakan perintah dari Khalifah Walid II untuk memerangi Sindh (daerah dekat sungai Indus).
Dalam perkembangan nya banyak Dinasti-dinasti yang berasaskan Islam. Dan juga berkembang nya Mazhab yang di keluarkan oleh Ulama India. Untuk saat ini New Delhi Ibu Kota India sudah menjadi pusat Islam Kerajaan Moghul. Hingga kini, Islam tumbuh dan berkembang dengan baik disana. Bahkan di pemerintahan profesional, Muslim juga tampil sebagai pejabat maupun anggota dewan. Islam disana juga berkembang pesat.


Daftar Pustaka
Mulya, T.S.G. (1951). INDIA : Sejarah Politik dan Pergerakan Kebangsaan. Jakarta : Balai Pustaka
Sunanto, M. (2012). Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
Amir, SM. (2009). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah 
Hamka. (1975).Sejarah Umat Islam. Jakarta: Bulan Bintang
Karim, Abdul. (2003). Sejarah Islam Di India. Yogyakarta: Bunga Grafis Production,
Suwarno, (2012). Dinamika Sejarah Asia Selatan. Jakarta : Ombak.
Ludfiani, P. R. (2012). Ratusan ribu jamaah Muslim India shalat subuh di Masjid Jami New Delhi. [Online] . Tersedia: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/03/30/m1otmh-new-delhi-pusat-perkembangan-islam-di-india. [11 Maret 2013]
Hidayah, K. (2012). New Delhi, Pusat Perkembangan Islam di India. [Online]. Tersedia: http://khalifahalhidayah.blogspot.com/2012/04/sejarah-kedatangan-islam-di-india.html. [11 Maret 2013].
Desmita, R. (2012). Masuk dan Berkembangnya Islam di India. [Online]. Tersedia: http://rezkidesmita.blogspot.com/2012/03/masuk-dan-berkembangnya-agama-islam-di.html. [11 Maret 2013].



Rabu, 10 April 2013



Pengertian Masyarakat
Berikut di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia.

1. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
2. Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
3. Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.


Syarat-syarat Menjadi Masyarakat
Menurut Marion Levy diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpulan manusia bisa dikatakan / disebut sebagai masyarakat.

1. Ada sistem tindakan utama.
2. Saling setia pada sistem tindakan utama.
3. Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.
4. Sebagian atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia.









Pengertian Masyarakat Perkotaan


Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
                                                                    
1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.
3. Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa.
5. Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.
6. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.
7. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.














Pengertian Masyarakat Pedesaan

Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri
Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yang sangat kuat yang hakekatnya.
Adapun yang menjadi ciri masyarakat desa antara lain :
  1. Didalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya.
  2. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan
  3. Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian




Tipe Masyarakat
Dipandang dari cara terbentuknya, masyarakat dapat dibagi dalam :
  1. masyarakat paksaan, misalnya Negara, masyarakat tawanan, dan lain-lain
  2. masyarakat merdeka, yang terbagi dalam :
  • masyarakat nature, yaitu masyarakat yang terjadi dengan sendirinya, seperti gerombolan, suku, yagn bertalian dengan hubungan darah atau keturunan
  • masyarakat kultur, yaitu masyarakat yang terjadi karena kepentingan keduniaan atau kepercayaan, misalnya koperasi, kongsi perekonomian, gereja dan sabagainya
Perbedaan dan ciri-ciri antara desa dan kota
Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Menurut Soekanto (1994), per-bedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapa pun kecilnya suatu desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, pada hakekatnya bersifat gradual.
Kita dapat membedakan antara masya-rakat desa dan masyarakat kota yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan “berlawanan” pula. Perbedaan ciri antara kedua sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai berikut:
Masyarakat Pedesaan
1).Perilaku homogen
2).Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan
3).Perilaku yang berorientasi pada tradisi dan status .
4).Isolasi sosial, sehingga statik
5).Kesatuan dan keutuhan kultural
6).Banyak ritual dan nilai-nilai sakral
7). Kolektivisme

Masyarakat Kota:
1). Perilaku heterogen
2).Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan 3).Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
4).Mobilitassosial,sehingga dinamik
5).Kebauran dan diversifikasi kultural
6).Birokrasi fungsional dan nilai-nilaisekular
 7).Individualisme

Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan (Soekanto, 1994). Selanjutnya Pudjiwati (1985), menjelaskan ciri-ciri relasi sosial yang ada di desa itu, adalah pertama-tama, hubungan kekerabatan. Sistem kekerabatan dan kelompok kekerabatan masih memegang peranan penting. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian, walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang genteng dan bata, tukang membuat gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan sambilan saja .
Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya memegang peranan penting. Orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Nimpoeno (1992) menyatakan bahwa di daerah pedesaan kekuasaan-kekuasaan pada umumnya terpusat pada individu seorang kiyai, ajengan, lurah dan sebagainya.

Hubungan Desa-Kota, Hubungan Pedesaan-Perkotaan
Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.
“Interface”, dapat diartikan adanya kawasan perkotaan yang tumpang-tindih dengan kawasan perdesaan, nampaknya persoalan tersebut sederhana, bukankah telah ada alat transportasi, pelayanan kesehatan, fasilitas pendidikan, pasar, dan rumah makan dan lain sebagainya, yang mempertemukan kebutuhan serta sifat kedesaan dan kekotaan.

Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.
Secara teoristik, kota merubah atau paling mempengaruhi desa melalui beberapa caar, seperti: (i) Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam; (ii) Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan; (iii) Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi; (iv) ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak dan orang kota. Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.
Salah satu bentuk hubungan antara kota dan desa adalah :
a). Urbanisasi dan Urbanisme
Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan. (soekanto,1969:123 ).
b) Sebab-sebab Urbanisasi

Aspek Positif dan Negatif
a. Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian,
b. Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.
c. Penduduk desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.
d. Didesa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.
e. Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.
Hal – hal yang termasuk pull factor antara lain :
a. Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan
b. Dikota lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.
c. Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.
d. Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya.
e. Kota memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri dari posisi sosial yang rendah ( Soekanti, 1969 : 124-125 ).



5 Unsur Lingkungan Perkotaan
Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan,
seyogyanyamengandung 5 unsur yang meliputi :
  • Wisma : unsure ini merupakan bagian ruang kota yang dipergunakan untuk tempat berlindung terhadap alamsekelilingnya, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial dalam keluarga. Unsure wisma ini menghadapkan
  1. dapat mengembangkan daerah perumahan penduduk yang sesuai dengan pertambahan kebutuhan penduduk untu masa mendatang
  2. memperbaiki keadaan lingkungan perumahan yang telah ada agar dapat mencapai standar mutu kehidpan yang layak, dan memberikan nilai-nilai lingkungan yang aman dan menyenangkan
  • Karya : unsure ini merupakan syarat yang utama bagi eksistensi suatu kota, karena unsure ini merupakan jaminan bagi kehidupan bermasyarakat.
  • Marga : unsure ini merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan tempat lainnya didalam kota, serta hubungan antara kota itu dengan kota lain atau daerah lainnya.
  • Suka : unsure ini merupakan bagian dari ruang perkotaan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan dan kesenian
  • Penyempurna : unsure ini merupakan bagian yang penting bagi suatu kota, tetapi belum secara tepat tercakup ke dalam keempat unsur termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan, fasiltias keagamaan, perkuburan kota dan jaringan utilitas kota.
Fungsi Eksternal
Di pihak lain kota mempunya juga peranan/fungsi eksternal, yakni seberapa jauh fungsi dan peranan kota tersebut dalam kerangka wilayah atau daerah-daerah yang dilingkupi dan melingkupinya, baik dalam skala regional maupun nasional. Dengan pengertian ini diharapkan bahwa suatu pembangunan kota tidak mengarah pada suatu organ tersendiri yang terpisah dengan daerah sekitarnya, karena keduanya saling pengaruh mempengaruhi.

Ciri-ciri Masyarakat desa

Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mengenal ciri-ciri masarakat desa sebagai berikut :

a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
b. Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
c. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
d. Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).
e. Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.

Hakikat Dan Sifat Masyarakat Pedesaan

Seperti dikemukakan oleh para ahli atau sumber bahwa masyarakat In¬donesia lebih dari 80% tinggal di pedesaan dengan mata pencarian yang bersifat agraris. Masyarakat pedesaan yang agraris biasanya dipandang antara sepintas kilas dinilai oleh orang-orang kota sebagai masyarakat tentang damai, harmonis yaitu masyarakat yang adem ayem, sehingga oleh orang kota dianggap sebagai tempat untuk melepaskan lelah dari segala kesibukan, keramaian dan keruwetan atau kekusutan pikir.

Maka tidak jarang orang kota melepaskan segala kelelahan dan kekusutan pikir tersebut pergilah mereka ke luar kota, karena merupakan tempat yang adem ayem, penuh ketenangan. Tetapi sebetulnya ketenangan masyarakat pedesaan itu hanyalah terbawa oleh sifat masyarakat itu yang oleh Ferdinand Tonies diistilahkan dengan masyarakat gemeinschaft (paguyuban). Jadi Paguyuban masyarakat itulah yang menyebabkan orang-orang kota menilai sebagai masyarakat itu tenang harmonis, rukun dan damai dengan julukan masyarakat yang adem ayem.
Tetapi sebenarnya di dalam masyarakat pedesaan kita ini mengenal bermacam-macam gejala, khususnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan-ketegangan sosial.

Gejala Masyarakat Pedesaan
a) Konflik ( Pertengkaran)
Ramalan orang kota bahwa masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang tenang dan harmonis itu memang tidak sesuai dengan kenyataan sebab yang benar dalam masyarakat pedesaan adalah penuh masalah dan banyak ketegangan. Karena setiap hari mereka yang selalu berdekatan dengan orang-orang tetangganya secara terus-menerus dan hal ini menyebabkan kesempatan untuk bertengkar amat banyak sehingga kemungkinan terjadi peristiwa-peristiwa peledakan dari ketegangan amat banyak dan sering terjadi.
Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi biasanya berkisar pada masalah sehari-hari rumah tangga dan sering menjalar ke luar rumah tangga. Sedang sumber banyak pertengkaran itu rupa-rupanya berkisar pada masalah kedudukan dan gengsi, perkawinan, dan sebagainya.
b) Kontraversi (pertentangan)
Pertentangan ini bisa disebabkan oleh perubahan konsep-konsep kebudayaan (adat-istiadat), psikologi atau dalam hubungannya dengan guna-guna (black magic). Para ahli hukum adat biasanya meninjau masalah kontraversi (pertentangan) ini dari sudut kebiasaan masyarakat.

c) Kompetisi (Persiapan)
Sesuai dengan kodratnya masyarakat pedesaan adalah manusia-manusia yang mempunyai sifat-sifat sebagai manusia biasanya yang antara lain mempunyai saingan dengan manifestasi sebagai sifat ini. Oleh karena itu maka wujud persaingan itu bisa positif dan bisa negatif. Positif bila persaingan wujudnya saling meningkatkan usaha untuk meningkatkan prestasi dan produksi atau output (hasil). Sebaliknya yang negatif bila persaingan ini hanya berhenti pada sifat iri, yang tidak mau berusaha sehingga kadang-kadang hanya melancarkan fitnah-fitnah saja, yang hal ini kurang ada manfaatnya sebaliknya menambah ketegangan dalam masyarakat.

d) Kegiatan pada Masyarakat Pedesaan
Masyarakat pedesaan mempunyai penilaian yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja keras tanpa bantuan orang lain. Jadi jelas masyarakat pedesaan bukanlah masyarakat yang senang diam-diam tanpa aktivitas, tanpa adanya suatu kegiatan tetapi kenyataannya adalah sebaliknya. Jadi apabila orang berpendapat bahwa orang desa didorong untuk bekerja lebih keras, maka hal ini tidaklah mendapat sambutan yang sangat dari para ahli. Karena pada umumnya masyarakat sudah bekerja keras.

Tetapi para ahli lebih untuk memberikan perangsang-perangsang yang dapat menarik aktivitas masyarakat pedesaan dan hal ini dipandang sangat perlu. Dan dijaga agar cara dan irama bekerja bisa efektif dan efisien serta kontinyu (diusahakan untuk menghindari masa-masa kosong bekerja karena berhubungan dengan keadaan musim/iklim di Indonesia).

Kesimpulan :
Meskipun banyak sekali perbedaan antara masyarakat desa dan kota,namun diantara kedua komponen tersebut memiliki hubungan yang signifikan,artinya kehidupan perekonomian di kota tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak ada pasokan tenaga atau barang dari desa,begitu juga sebaliknya.

Sumber :
http://cahyamenethil.wordpress.com/2010/11/29/masyarakat-perkotaan-dan-masyarakat-pedesaan/
http://nengmamaicuiitzzcuiitzz.blogspot.com/2011/12/bab-6-masyarakat-perkotaan-dan.html

1. PETER L. BERGER
Definisi masyarakat adalah suatu keseluruhan kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya. Keseluruhan yang kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan itu terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan.
2. KARL MARX
Masyarakat ialah keseluruhan hubungan - hubungan ekonomis, baik produksi maupun konsumsi, yang berasal dari kekuatan-kekuatan produksi ekonomis, yakni teknik dan karya
3.  GILLIN
Masyarakat adalah kelompok manusia yang mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan.
4. HAROLD J. LASKI
Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup dan bekerjasama untuk mencapai terkabulnya keinginan-keinginan mereka bersama
5. ROBERT MACIVER
Masyarakat adalah suatu sistim hubungan-hubungan yang ditertibkan (society means a system of ordered relations)
6. SELO SOEMARDJAN
Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan
7. HORTON & HUNT
Masyarakat adalah suatu organisasi manusai yang saling berhubungan
8. MANSUR FAKIH
Masyarakat adalah sesuah sistem yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan dan masing-masing bagian secara terus menerus mencari keseimbangan  (equilibrium) dan harmoni
9. Emile Durkheim
masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
10. PAUL B. HORTON & C. HUNT
masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.
ya